-->

Senin, 31 Januari 2011

Obat Ampuh Usai Patah Hati

VIVAnews - Perceraian, putus dengan pacar, atau perpisahan dengan orang terkasih memang sangat menyakitkan, bahkan kerapkali memunculkan krisis identitas.

Pernahkah Anda merasa sangat rapuh sejak berpisah dari pasangan? Atau, mungkin Anda menjadi sering bertanya siapa Anda dan apa yang akan Anda lakukan setelah berpisah dengannya.

Percayalah, Anda tidak sendiri. Sebuah artikel yang ditulis Slotter pada Journal Personality and Social Psychology melaporkan, biasanya orang akan memiliki pandangan yang 'kelabu' tentang dirinya sendiri setelah mengalami perpisahan. Mereka kerapkali susah mengganti 'kita' menjadi 'saya,' saat berbicara tentang diri mereka.

Saat hubungan berakhir, orang cenderung ingin berubah dan melepaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan mantan pasangan.

Semakin besar komitmen yang ditinggalkan, maka semakin besar pula keinginan untuk berubah saat hubungan berakhir. Namun, hal ini justru yang sering mengakibatkan stres berkepanjangan dan menghambat 'proses pemulihan' saat perubahan-perubahan tersebut tidak mengubah apapun.

Wanita lebih sulit untuk mendefinisikan pandangannya kembali dibandingkan pria. Hal ini yang membuat mereka terlihat sangat rapuh.Wanita merasa tidak ada yang sebanding dengan sakit hati yang ia rasakan sehingga pikiran dan logika terfokus dengan mencari cara untuk bangkit.

Lalu, bagaimana menangani stres karena krisis identitas setelah perpisahan? Berikut tips dari Dr. Jeanette Raymond seperti dilansir laman Yourtango.

1. Ceritakan tentang perpisahan Anda pada orang lain. Namun, jangan terus mencari kesalahan

'sang mantan' karena hal tersebut hanya akan membuat Anda lebih sakit hati. Dengan bercerita Anda akan mencoba mencari diri Anda dan menganggap cerita pahit tersebut hanya bagian dari pelajaran hidup Anda. Pengalaman bercerita akan menciptakan memori baru, dan membantu memenjarakan memori yang telah terjadi dengan mantan pasangan.

2. Katakan pada teman bahwa Anda yakin telah mengambil keputusan tepat dan telah merencanakan hal baik untuk diri sendiri.

Saat Anda mendengar Anda berbicara dengan penuh percaya diri tentang rencana-rencana hidup, akan terbentuk saraf-saraf baru pada otak yang akan membantu mengatasi rasa takut dan ragu. Memberi pikiran dan energi positif dengan memikirkan langkah ke depan lebih baik daripada hanya menoleh ke belakang dan meratapinya.

3. Diskusikan pro dan kontra yang muncul saat bercerita. Anda akan mengetahui sisi positif dan negatif dari perpisahan sehingga membantu proses pemulihan. Pembicaraan tersebut akan membuka jendela baru untuk membantu Anda melihat dan membangun identitas personal sehingga Anda akan merasa lebih kuat dan percaya diri.

4. Buatlah daftar karakter Anda yang bernilai dan dapat membantu Anda di masa depan. Penghargaan terhadap karakteristik Anda membantu mengetahui posisi Anda dalam hubungan. Selain itu, Anda harus melakukan instrospeksi dan mengubur beberapa aspek dari diri Anda untuk dapat masuk kembali dalam sebuah komitmen.

Buanglah sifat-sifat yang mengakibatkan sebuah hubungan seperti berjalan di tempat. Milliki apa yang Anda miliki dengan kebanggaan. Percayalah bahwa Anda dapat menarik perhatian pria lebih baik. (pet)

Menyusui, Ampuh Cegah Diabetes

VIVAnews - Menyusui tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan bayi, tetapi juga ibu. Selain menurunkan risiko kanker payudara, menyusui juga merupakan tindakan pencegahan terhadap serangan diabetes tipe 2.

Dr Alison Stuebe, peneliti dari Brigham dan Women's Hospital, Boston, Massachusetts, mengatakan, perubahan metabolisme ibu menyusui membantu menstabilkan kadar gula darah dan meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap hormon insulin.

Studi yang diterbitkan dalam Journal of American Medical Association ini dilakukan dua tahap dengan melibatkan 157 ribu perawat. Mereka diminta mengisi kuesioner kesehatan secara berkala selama sedikitnya 12 tahun. Selama penelitian, 6.277 peserta mengembangkan diabetes tipe 2.

Studi tahap pertama dimulai pada 1976. Sebanyak 6,3 persen partisipan yang menyusui kurang dari setahun atau tidak sama sekali mengalami diabetes. Sementara itu, partisipan yang menyusui selama lebih dari setahun, hanya 5,5 persen mengalami diabetes.

Studi kedua dimulai pada 1989. Hasilnya, wanita yang menyusui sedikitnya satu tahun, sekitar 15 persen lebih rendah mengembangkan diabetes tipe 2 dibanding mereka yang tidak pernah menyusui. Untuk setiap tahun tambahan menyusui, ada tambahan 15 persen penurunan risiko.

Stuebe mengatakan, menyusui terus-menerus selama paling sedikit satu tahun akan lebih baik dibandingkan dengan menyusui kurang dari satu tahun. Menurunkan kadar gula darah juga lebih mudah pada wanita menyusui dibanding wanita tidak menyusui.

Mereka yang menyusui cenderung memiliki gaya hidup lebih sehat dibandingkan yang tidak menyusui. Sebab, wanita menyusui umumnya selektif memilih makanan sehat dan bergizi. Gaya hidup semacam ini jelas akan mendorong metabolisme tubuh untuk mengurangi risiko diabetes.

Dr Ruth Lawrence dari University of Rochester di New York menambahkan, berdasar penelitian sebelumnya, menyusui juga berperan menurunkan risiko terkena kanker payudara, kanker ovarium dan osteoporosis. Ia berharap, berbagai manfaat menyusui itu akan mendorong kaum ibu memberikan ASI eksklusif pada bayinya.

;;