-->

Senin, 04 Juli 2011

Otak Semakin Sehat saat Terbahak

JANGAN segan atau malu jika ingin tergelak saat mendengar sebuah lelucon. Menurut sebuah studi baru, tertawa terbahak-bahak tak hanya akan mencerahkan wajah, tapi juga menyehatkan pikiran karena meningkatkan neuron di otak kita. Semakin lucu lelucon tersebut, semakin terlihat aktivitas di pusat-pusat neuron tertentu yang menciptakan perasaan senang.

Sebuah tim ilmuwan dari Medical Research Council memindai otak 12 relawan untuk membandingkan apa yang terjadi ketika mereka mendengar kalimat biasa dan lelucon. Mereka menemukan bahwa respons area pusat 'menghargai' pada otak menyala lebih banyak dalam menanggapi humor daripada kalimat biasa. Selanjutnya, kekuatan respons bergantung pada seberapa lucu tanggapan yang diterima setiap 12 pasien.

"Kami menemukan pola karakteristik dari aktivitas otak ketika lelucon yang digunakan adalah permainan kata-kata," kata Dr Matt Davis dari MRC Cognition and Brain Sciences Unit di Cambridge, seperti dikutip dari Daily Mail.

"Respons memang berbeda-beda pada setiap orang. Terlihat pada pemetaan otak dalam mengolah lelucon. Kalimat menunjukkan bagaimana bahasa memberikan kontribusi untuk kesenangan mendapatkan lelucon," jelas para peneliti.

Lebih lanjut, para peneliti menyarankan bahwa temuan ini dapat digunakan sebagai patokan untuk memahami bagaimana orang yang tidak dapat berkomunikasi secara normal bereaksi terhadap lelucon. Penelitian ini telah dipublikasikan dalam Journal of Neuroscience edisi Juni 2011. (Pri/OL-06)

MAU tahu lagu apa yang akan popular beberapa saat mendatang? Tak perlu lagi mengadakan survey atau jajak pendapat yang belum pasti karena kini ada cara nyata dalam memprediksi lagu apa yang akan menjadi hit atau populer yakni dengan memindai otak anak remaja.

Para ilmuwan mengklaim, memindai otak remaja yang tengah mendengarkan musik dapat memprediksi apakah sebuah lagu akan menjadi hit atau justru gagal di pasaran.

Para peneliti di Emory University menemukan hal itu kala mempelajari pengaruh tekanan terhadap remaja. Para ilmuwan pun lalu menggunakan musik untuk mengetahui bagaimana remaja dipengaruhi oleh pendapat kawan-kawan mereka.

Dalam penelitian yang dimulai pada 2006, sebanyak 27 remaja berusia antara 12 dan 17 tahun mendengarkan klip musik dari 120 lagu yang belum dikenal melalui MySpace selama satu jam. Selama itu, aktivitas otak mereka dimonitor dengan menggunakan resolusi pencitraan fungsional magnetik (MRI).

Seorang neuroeconomist Dr Gregory Berns, seperti dikutip dari Yahoo Health, Senin (13/6) mengutarakan, "Respon otak dapat memprediksi sekitar sepertiga dari lagu-lagu yang akhirnya mampu terjual lebih dari 20.000 keping." Studi ini dipublikasikan secara daring dalam Journal of Consumer Psychology. (Pri/OL-06)

;;