Senin, 04 Juli 2011
ANAK perempuan kurus cenderung menderita kanker payudara di usia selanjutnya. Peneliti menemukan, perempuan yang kekurangan berat badan di usia tujuh tahun berisiko lebih besar menderita penyakit ini di usia tua dibandingkan perempuan dengan ukuran lebih besar.
Peneliti dari Karolinska Institute di Stockholm mengungkap, perempuan yang sedikit kelebihan berat badan di usia muda berisiko lebih kecil mengalami tipe tumor agresif yang sangat sulit diatasi. Menurut peneliti, temuan ini, bisa merintis jalan untuk menggunakan foto di masa anak-anak sebagai salah satu cara dalam memperhitungkan risiko kanker payudara perempuan.
Dalam studi yang dipublikasikan di The Breast Cancer Research journal, Kamis (15/4), ini, peneliti mempelajari 6.000 perempuan di Swedia. Lima puluh persen dari partisipan tersebut adalah pasien kanker payudara. Peneliti membagi partisipan ke dalam tiga kelompok berdasarkan kategori apakah badan mereka 'kurus', 'berukuran sedang' atau 'besar' saat berusia tujuh tahun. Partisipan menggunakan foto-foto dan memori mereka sebagai dasar.
Peneliti menemukan, perempuan yang lebih besar di usia muda berisiko lebih kecil menderita kanker payudara saat memasuki masa menopause.
Di sisi lain, penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa perempuan yang obesitas jauh lebih berisiko menderita kanker payudara. Selain itu, mereka juga bersiko 50 persen lebih besar meninggal akibat penyakit tersebut.
Peneliti menyatakan belum tahu mengapa anak perempuan kurus lebih berisiko menderita kanker payudara. Tapi temuan ini, terang peneliti, mempunyai implikasi penting dalam menentukan risiko perempuan.
"Temuan ini kelihatannya berlawanan, karena berat badan lahir besar dan indeks massa tubuh tinggi pada orang dewasa justru ditemukan meningkatkan risiko kanker payudara," terang pemimpin studi Jingmei Li, seperti dikutip situs dailymail.co.uk."Mekanisme perlindungan di balik badan kurus di masa anak-anak ini masih belum terjawab."
Studi ini juga menemukan bahwa anak perempuan dengan badan yang lebih besar berisiko lebih kecil mengalami tumor estrogen reseptor negatif, salah satu bentuk penyakit yang paling mematikan.
Kanker payudara merupakan bentuk kanker yang paling umum dijumpai pada perempuan. Berdasarkan perkiraan, terang Li, satu dari sembilan perempuan akan mendapatkan penyakit ini dalam rentang kehidupan mereka.
KEMUNGKINAN penggunaan vaksin kanker payudara pada manusia kini semakin tinggi, terlebih dengan adanya penelitian yang dilakukan terhadap tikus oleh para peneliti di Cleveland Clinic.
Para peneliti tersebut mengatakan uji coba vaksinasi tunggal dengan antigen alpha-laktoalbumin pada tikus menunjukkan hasil yang sangat baik. Terlihat, antigen itu dapat mencegah pembentukan kanker dan menghentikan pertumbuhan tumor. "Jika hal itu dapat terjadi pada manusia seperti halnya tikus, ini akan sangat monumental," kata ketua penelitian tersebut, ahli imunologi Vincent Tuohy, Minggu (30/5).
Uji coba vaksin ini terhadap manusia akan dimulai tahun depan. Jika berhasil, vaksin ini akan diaplikasikan kepada para perempuan berusia di atas 40 tahun, umur yang paling berisiko terkena kanker payudara.
"Frekuensi perempuan yang menyusui di awal usia 40-an sangatlah rendah. Maka kami akan menyasar perempuan usia tersebut guna mencegah mereka terkena kanker payudara," kata Tuohy.
Untuk perempuan muda yang berisiko besar terkena penyakit itu, vaksin itu dapat menjadi pilihan substitusional selain metode pengobatan mastektomi profilaksis.
Penelitian Tuohy akan dipublikasikan secara daring di Nature.com dan di Jurnal Nature Medicine pada 10 Juni.(Xinhua/Pri/OL-08)
KALAU Anda masih muda dan mengidap kanker payudara, ada baiknya berobat dengan lebih intensif. Walaupun sudah menunjukkan tanda kesembuhan, jangan lupa untuk terus melakukan pemeriksaan dan pengobatan hingga selesai. Pasalnya, sebuah penelitian menunjukkan, perempuan pengidap kanker payudara yang berusia di bawah 35 tahun lebih rentan untuk mengalami kanker kembali setelah pengobatan dibandingkan perempuan dengan usia yang lebih tua.
Berdasarkan studi, hal ini disebabkan oleh jenis pengobatan (treatment) yang diterima oleh pasien kanker payudara usia muda. Menurut peneliti, kemungkinan kanker kambuh lebih kecil pada perempuan yang menerima pengobatan mastektomi dan radiasi dibandingkan pasien yang hanya menerima satu pengobatan, mastektomi atau terapi pemeliharaan payudara saja.
Penemuan ini diperoleh berdasarkan hasil penelitian terhadap 652 pasien pengidap kanker payudara di University of Texas M. D. Anderson Cancer Center, selama lebih dari 30 tahun. Pasien berusia 35 tahun atau lebih muda. 197 dari pasien menerima terapi pemeliharaan payudara, 237 pasien menerima mastektomi, dan 234 pasien melakukan mastektomi dan radiasi.
Secara keseluruhan, terang peneliti, angka kemungkinan kambuh kembali berbeda pada ketiga kelompok. Angka kemungkinan kambuh pada pasien yang melakukan mastektomi dan radiasi lebih kecil (15.1%) dibandingkan dengan pasien yang hanya melakukan terapi pemeliharaan payudara (19.8%) dan pasien yang hanya melakukan mastektomi saja (24.1%).
Pasien dengan kanker tahap awal (stadium I) juga mendapatkan hasil sama dengan terapi pemeliharaan payudara dan mastektomi. Tetapi, terang peneliti, penambahan kemoterapi akan lebih menguntungkan."Sedangkan pasien dengan kanker stadium II menerima kontrol terbaik dengan melakukan terapi mastektomi ditambah radiasi," tulis para peneliti di International Journal of Radiation Oncology, Biology, and Physics, seperti yang dikutip oleh foxnews.com
"Kekambuhan kanker payudara setelah melakukan pengobatan optimal masih menjadi masalah utama," terang pemimpin studi Dr. Beth M. Beadle dari Universitas Texas.
Studi-studi sebelumnya telah menunjukkan, hasil pengobatan kanker payudara pada pasien yang lebih muda selalu lebih buruk dibandingkan mereka yang mengidap kanker payudara di usia yang lebih tua.
Walaupun alasannya belum jelas, para ahli menduga hal ini disebabkan karena kanker pada perempuan muda lebih agresif. "Semoga studi kami bisa membantu para pakar terapi onkologi untuk merencanakan terapi terbaik pada pasien kanker payudara yang berusia lebih muda," terang Beadle.
Rabu, 07 Januari 2009 18:00 WIB Para Ahli Temukan Gen Penyebab Penyebaran Kanker
0 komentar Diposting oleh fikirjernih di 10.08Para ahli dari Amerika Serikat menemukan satu gen yang berperan penting dalam meningkatkan kemungkinan penyebaran sel kanker payudara dan meningkatkan resistensi kanker terhadap kemoterapi.
Mereka menemukan bahwa orang-orang yang mengidap kanker ganas mempunyai perubahan genetik yang tidak normal pada satu sel yang disebut dengan MTDH, obat-obatan yang bisa menghambat gen ini bisa mencegah sel tumor mengalami metastasi atau penyebaran, serta meningkatkan harapan hidup pengidap kanker payudara.
"Penemuan ini merupakan pencerahan dalam upaya pengembangan obat yang dapat menghambat metastasi," kata dr. Michael Reiss dari The Cancer Institute New Jersey di New Brunswick.
Menghentikan penyebaran kanker sangatlah penting, mengingat 98% pasien yang kankernya belum menyebar dapat bertahan hidup selama 5 tahun ke depan atau lebih sedangkan hanya 27% pasien yang kankernya telah menyebar, mampu bertahan hidup.
Reiss dan Yibin Kang dari Universitas Princeton menggunakan beberapa pendekatan penelitian yang berbeda untuk menemukan gen ini, yang membuat sel-sel tumor tetap berada di pembuluh-pembuluh darah, jauh dari organ-organ lain.
Para peneliti menggunakan data dari komputer mengenai tumor payudara dan menemukan bahwa pada orang-orang yang mengidap kanker payudara ganas, terdapat banyak segmen kecil dari kromosom 8 manusia.
Pada sebagian besar DNA normal hanya terdapat 2 kopi gen, sedangkan pada tumor payudara terdapat 8 kopi segmen gen tersebut. Tim peneliti kemudian memriksa sampel dari 250 pasien untuk melihat ketidaknormalan genetik dan menemukan bahwa gen MTDH terlalu aktif dan berperan dalam tumor-tumor ganas.
Ada di setiap sel
"Gen ini ada di setiap 1 dari 4 sel," kata Kang," Bagaimanapun, tumor mendapatkan jumlah kopi ekstra dan menjadi berlebihan. Kami melihat 30-40% tumor kelebihan gen ini."
Para peneliti kemudian menginjeksi tikus percobaan dengan sel-sel tumor dari pasien yang mengalami perubahan genetik ini dan menemukan bahwa tikus-tikus ini juga membentuk tumor yang cenderung bersifat menyebar. Tumor-tumor ini juga cenderung resisten dengan pengunaan obat kemoterapi tradisional, seperti paclitaxel.
Tetapi, saat mereka mengubah tumor-tumor ini secara genetik, dengan menghambat gen MTDH, sel-sel tumor jadi kurang mampu menyebar dan lebih mudah ditangani dengan kemoterapi. Kang mengatakan, dia sangat berharap penemuan ini akan mendorog penemuan obat yang tidak hanya mencegah penyebaran kanker, tetapi juga obat yang membuat kanker lebih responsif terhadap pengobatan.
"Jika kita memiliki obat untuk menghambat jenis gen ini, itu bisa berfungsi ganda," kata Kang.
Menurut Kang, MTDH juga berperan dalam jenis kanker lainnya termasuk kanker prostat."Gen ini sepertinya mempunyai pengaruh yang luas," terang Kang.
Selain itu, menurut kang, ada kemungkinan untuk mengembangkan antibodi untuk menetralkan keaktifan gen MTDH. "Penemuan ini telah menarik perhatian para pembuat obat, saya optimis kami akan mencoba mengembangkan obat secepat mungkin," kata Kang.
PENAMPILAN perempuan berpayudara alami dengan ukuran terbesar di dunia pada televisi di Inggris membuat para ahli tertarik untuk mengkaji konsekuensi psikologis dan fisik dari kondisi ini.
Annie Hawkins Turner masuk ke dalam Guinness World Record sebagai pemilik payudara dengan ukuran dan berat paling besar di dunia yakni 102ZZZ. Kala tampil dalam program acara televise pagi Hawkins-Turner mengatakan payudaranya mulai tumbuh pada usia 9 tahun. Pertumbuhan itu menyebabkan stres cukup membuatnya tertekan secara emosional.
Kemudian saat dewasa, suaminya menyarankan agar ia mau menampilkan dadanya tersebut di website dewasa.Hawkins Turner mengatakan ia telah belajar untuk mengatasi berat payudaranya.
"Setiap kali menemui dokter baru, mereka menawarkan saya untuk operasi, tetapi saya merasa tidak memerlukan operasi dan saya memiliki punggung yang kuat dan belum pernah sakit pinggang. Saya pun telah menjalani terapi untuk menahan diri sehingga saya tidak akan menyakiti sendiri," katanya kepada penonton televisi.
"Terkadang saya merasa kesal ketika orang bertanya, 'Bagaimana Anda berjalan?' Saya tidak cacat, saya hanya punya payudara yang sangat besar dan saya telah menerima dan terbiasa dengan hal itu," tambahnya seperti dikuitp dari Yahoo Health (24/6).
Kebanyakan perempuan yang memiliki payudara besar di luar proporsi tubuh kerap mengeluh merasakan ketidaknyamanan, sakit punggung, sakit leher, iritasi kulit, serta perhatian yang berlebihan dari orang lain, sulit mencari pakaian yang cocok, dan sulit untuk berolahraga.
Dan memang, selain membesarkan, operasi pengecilan payudara ternyata juga cukup populer di Inggris dengan menempati posisi ke-4 dalam operasi bedah kosmetik. Ada 4.218 operasi yang dilakukan pada 2010. (Pri/OL-06)
