-->

Sabtu, 29 Desember 2012

TEMPO.CO, London - Akses mudah pada pornografi, terutama secara online dan pendidikan seks yang buruk, harus disalahkan untuk remaja yang menderita kecanduan seks, kata terapis kecanduan seks, Paula Hall. Ia menyatakan, hampir setengah dari mereka yang menderita kecanduan umumnya pertama bersinggungan dengan pornografi sebelum mereka berusia 16 tahun. Dampingi anak saat mereka berinternet. (iStockphoto) Survei yang dilakukannya menemukan 40 persen remaja yang menggemari tayangan pornografi sebelum usia 12 tahun. Sebanyak 90 persen dari mereka kemudian mengalami kecanduan seks setelah 16 tahun. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa faktor-faktor lain, seperti perpisahan orang tua, sekolah yang memisahkan siswa laki-laki dan perempuan, serta pendidikan seks yang minim juga turut berkotribusi. Dan hampir setengah dari mereka yang disurvei pernah mengalami semacam pelecehan atau penyerangan seksual. Survei Hall terhadap penderita kecanduan seks dilakukan untuk buku barunya, "Understanding and Treating Sex Addiction". Dia mendefinisikan kecanduan seks sebagai perilaku seksual di luar kontrol yang menyebabkan masalah dalam kehidupan seseorang. Bintang seperti Russell Brand bahkan pernah mengaku kecanduan seks sehingga hampir menghancurkan kariernya. Survei ini juga menyoroti perbedaan sikap antara pria dan wanita tentang kecanduan seks. Secara substansial laki-laki lebih cenderung mencari bantuan pengobatan daripada wanita. Persentasenya, sebanyak 57,3 persen laki-laki mencari bantuan profesional untuk menyembuhkan kecanduannya, sedangkan perempuan hanya 38,3 persen. Enam puluh lima persen dari mereka yang disurvei berjuang dengan perasaan harga diri yang rendah dan hampir setengah mengalami masalah kesehatan mental. Hampir setengah responden mengaku kehilangan pasangan karena perilaku mereka dan seperempat mengatakan kecanduannya berpengaruh pada fungsi seksual mereka. MAIL ONLINE | TRIP B

Artikel Yang Berhubungan



0 komentar:

Poskan Komentar

By :
Free Blog Templates