-->

Sabtu, 08 November 2014

Jum’at, 7/11. Mendengarkan kutbah masjid dekat rumah akan cerita tentang manusia yang sakit hari, begitu menyentuh di dalam hati dan pikiran ku. Kisah ini bermula dari seorang ayah dan seorang anak, si anak adalah anak nakal dan selalu durhaka kepada orang tuanya.



Si anak yang selalu berbuat dosa dan durhaka kepada orang tua, sehingga membuat sang ayah merasa sedih dan terluka hatinya. Anak yang durhaka yang selalu diberikan nasihat oleh ayahnya untuk tidak melakukan perbuatan durhaka dan dosa, tetapi anak ini selalu membantah apa yang telah di nasihatkan oleh ayahnya.

Ayah  : Nak, kamu segera bertobat lah dari perbuatan dosa yang selalu kamu kerjakan setiap hari, sholat dan berbuat baiklah, supaya kamu selalu diridhoi oleh Allah.

Anak : Diamlah yah, aku tidak perduli, aku mau seperti ini, inilah jati diriku.

Mendengar apa yang terucap oleh anaknya itu, sang ayah bersedih hati, didalam hatinya berkecamuk rasa marah dan rasa sedih, bercampur rasa sayang.

Kemudian sang ayah pergi meninggalkan rumah dan menuju ke toko besi. Sang ayah pergi ketoko besi untuk membeli paku. Tujuan dari membeli paku adalah setiap sang anak berbuat dosa dan durhaka. Ayahnya selalu memaku dinding rumahnya.

Setiap saat sang anak durhaka ini selalu berbuat dosa dan setiap saat itu pula sang ayah selalu memaku rumah nya. Setiap hari berturut-turut seperti itu, dan hasilnya rumah itu sekarang penuh dengan paku di dindingnya, kemudia sang anak kemudian bertanya

Anak : Ayah kenapa engkau memaku rumah kita, padahal rumah ini adalah rumah yang indah.  

Ayah : Inilah hasil perbuatan mu nak, setiap saat bila engkau berbuat dosa aku selalu memaku dinding rumah kita.

Anak : Tapi kenapa yah, dinding rumah kita jadi jelek dan mudah rubuh.

Ayah : Supaya sakit hati ku dapat hilang karena kedurhakaan mu itu.

Mendengar ucapan sang ayah tersebut, sang anak langsung bersedih dan memohon ampun kepada orang tuanya, sang anak sadar bahwa apa yang diperbuatnya selama ini adalah dosa dan sang anak tidak mau lagi mengulangi perbuatannya. Kemudian mereka berpelukan dan sang anak selalu mematuhi perintah ayahnya, menjalankan sholat dan berbuat baik sampai selamanya.

Kisah diatas bisa kita ambil hikmat yaitu, walaupun kita kuat  kita baik dan indah dipandang mata, tetapi bilamana kita selalu mendapat sakit hati setiap harinya, kita pun akan lemah, buruk dan mudah roboh, seperti halnya dinding rumah yang dipaku setiap hari, dinding itu akan menjadi buruk dan lemah.

Artikel Yang Berhubungan



0 komentar:

Poskan Komentar

By :
Free Blog Templates