-->

Rabu, 29 September 2010


Sebuah studi baru melaporkan bahwa peningkatan gula darah bisa merusak memori dengan mempengaruhi dentate gyrus, area di otak dalam hippocampus yang membantu pembentukan memori.


Para peneliti mengatakan bahwa dampak ini bisa dilihat bahkan saat kadar gula darah, glukosa, hanya meningkat sedikit. Penemuan ini bisa membantu menjelaskan penurunan kemampuan kognitif yang disebabkan usia karena regulasi glukosa semakin buruk seiring dengan pertambahan usia.

Studi yang dilakukan oleh para peneliti di Columbia University Medical Center ini dipublikasikan di issue of Annals of Neurology edisi Desember.

"Jika kita menyimpulkan bahwa penurunan fungsi kognitif seiring dengan pertambahan usia, berarti ini akan terjadi pada kita semua," kata pemimpin investigasi dr. Scott Small, seorang profesor neurologi di Columbia University Medical Centre.

Kemampuan meregulasi glukosa mulai menurun saat menginjak usia 30 atau 40-an," tambahnya. "Karena regulasi glukosa bisa ditingkatkan dengan latihan fisik maka kami merekomendasikan Anda untuk melakukan olahraga," kata Small.

Dalam studi tersebut, para peneliti menggunakan magnetic resonance imaging resolusi tinggi untuk memetakan area-area di otak pada 240 orangtua yang dijadikan sebagai subjek penelitian. Mereka menemukan korelasi antara peningkatan kadar gula darah dan penurunan volume darah otak, atau aliran darah, di dentate gyrus, sebuah indikasi penurunan aktifitas metabolik dan fungsi di area otak tersebut.

Dengan memanipulasi kadar gula darah pada tikus dan monyet, para peneliti mengatakan, mereka mencoba memastikan penyebab dan akibat hubungan antara peningkatan glukosa dan pengurangan volume darah, kata Small.

Bruce S. McEwen, yang memimpin laboratorium neuroendokrinologi di Universitas Rockefeller di New York dan tidak terlibat dalam studi ini mengatakan bahwa penemuan studi ini sangat penting, tidak hanya bagi orangtua tetapi juga bagi anak-anak dan remaja yang berisiko mengalami diabetes jenis 2.

"Saat berpikir mengenai diabetes, kita juga berpikir mengenai penyakit jantung dan semua konsekuensinya terhadap seluruh bagian tubuh, tetapi kita biasanya tidak berpikir mengenai otak," katanya."Kita harus cemas akan hal ini. Kita harus memikirkan risikonya, tidak hanya bagi penyakit jantung dan kelainan metabolik, tetapi juga kemampuan kognitif, untuk memastikan kemampuan mengikuti perkembangan pendidikan dan persaingan serta tuntutan yang kompleks dalam masyarakat."

Studi observasi sebelumnya menunjukkan bahwa aktifitas fisik mengurangi risiko penurunan fungsi kognitif, dan studi ini juga telah menemukan bahwa diabetes meningkatkan risiko demensia. Studi sebelumnya juga telah menemukan hubungan antara diabetes jenis 2 dengan disfungsi di area dentate gyrus.

Sheri Colberg-Ochs, seorang guru besar tamu di bidang ilmu olahraga di Universitas Old Domino, Norfolk, mengatakan, penelitiannya menemukan bahwa olahraga secara teratur, bahkan hanya dengan aktifitas fisik ringan, bisa menggantikan dampak-dampak negatif dari diabetes jenis 2 dalam penurunan fungsi kognitif."Tidak jelas bagaimana mekanismenya, tetapi ini mungkin berkaitan dengan dampak insulin," kata Sheri.

"Studi baru ini sangat menarik karena memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai bagian mana di daerah hippocampus yang paling dipengaruhi oleh diabetes yang tidak terkontrol," urainya.

"Tetapi, peningkatan glukosa darah yang terlihat dalam studi ini lebih ringan dan tidak dapat dipertimbangkan sebagai penyakit," kata Small.

"Ini merupakan bagian normal dari proses penuaan, seperti terbentuknya kerutan di kulit," katanya."Ini terjadi pada setiap orang, dan proses ini semakin memburuk seiring bertambahnya usia."



Sumber
mediaindonesia.com

Website yang berhubungan :
Tentang Aku
Sentuhan Rohani
Info Teknologi Terkini
Info Pendidikan
Info Kesehatan
Forum Di Web
Puisi-puisi ku

Artikel Yang Berhubungan



0 komentar:

Poskan Komentar

By :
Free Blog Templates