-->

Jumat, 11 Maret 2011

Saham Bank Pilihan Saat Inflasi Tinggi

INILAH.COM, Jakarta – Tekanan dari tingginya inflasi ternyata tidak semuanya berimbas negatif pada sektor finansial. Inilah saham perbankan yang masih direkomendasikan analis.

Joseph Pangaribuan, analis Samuel Sekuritas masih mempertahankan peringkat netral pada sektor perbankan. Meskipun tekanan inflasi memberikan sentimen negatif, namun di sisi lain akan meningkatkan minat pasar global. Apalagi kondisi investasi di Indonesia, yang berpotensi mendapatkan investment grade tahun ini, dapat mengkompensasi tekanan inflasi,” ungkapnya dalam riset terbarunya.

Seperti diketahui, Bank Indonesia telah menaikkan BI rate menjadi 6,75% dari 6,5%, baru-baru ini. Menurut konsensus analis, BI masih berpotensi menaikkan suku bunga lagi akibat tekanan inflasi. “Namun, kenaikan suku bunga tidak mengindikasikan semua hal negatif,” katanya.

Misalkan saja Bank Mandiri (BMRI.JK) yang akan menikmati tambahan pendapatan dari obligasi, dimana sebagian besar obligasi pemerintah memiliki suku bunga apung (floating rate).

Sementara itu, tekanan bunga tidak akan signifikan untuk BMRI, Bank Rakyat Indonesia (BBRI.JK), Bank Central Asia (BBCA.JK), dan Bank Negara Indonesia (BBNI.JK), “Hal ini karena sebagian besar simpanan publik berada dalam rekening giro dan tabungan,” ucap Joseph.

Adapun terkait elastisitas, bank dengan porsi lebih besar pada kredit korporasi dan usaha menengah, akan lebih sensitif ketika tingkat bunga berfluktuasi. Seperti BBNI yang memiliki dampak tertinggi ketika tingkat bunga naik, diikuti BBCA dan BMRI. Hal ini karena ketiga bank tersebut memberikan sebagian besar kredit kepada perusahaan korporasi dan menengah.

“Sebaliknya, secara historis, BBRI adalah bank dengan dampak terendah ketika tingkat suku bunga naik, karena pinjaman mayoritas berasal dari usaha mikro, kecil perusahaan, menengah, dan (UMKM),” paparnya.

Joseph menuturkan, bahwa tekanan terhadap sektor perbankan juga datang dari peraturan baru Loan to Deposit Ratio (LDR). Implementasi aturan pinjaman baru yang terkait kebutuhan cadangan (RR) ini, akan memaksa bank meningkatkan pertumbuhan kredit.

Dengan peraturan ini, bank dengan LDR lebih rendah dari 78% akan dikenakan sanksi peningkatan cadangan tambahan. BBCA, BMRI, BBNI adalah bank dengan LDR di bawah 78% dengan BBCA memiliki LDR terendah, “Pelaksanaan peraturan ini akan meningkatkan biaya pinjaman bank sehingga bank akan mengkompensasi dengan kenaikan suku bunga kredit,” ulasnya.

Di tengah situasi ini, saham yang masih menjadi jagoan Jospeh adalah BMRI dan BBRI, dengan target harga masing-masing di Rp7.900 dan Rp6.750. Berdasarkan analisis regresi, kedua emiten ini masih undervalued. “Rekomendasi beli untuk BBRI dan BMRI,” katanya.

Dengan sebagian besar kredit pada UMKM dan simpanan pada rekening giro dan tabungan, BBRI tidak terpengaruh tekanan inflasi. Saat ini, BBRI diperdagangkan pada price to book value(PBV) 2011 sebesar 2,7 kali dan harga saat ini belum mencerminkan return on equity (ROE) yang baik.

“Kami mempertahankan asumsi dan menyesuaikan target harga menjadi Rp6.750 sebagai imbas stock split pada 12 Januari 2011 (rasio 1:2),”katanya.

Demikian pula kredit BMRI yang berdasarkan kalkulasi elastisitas, dinilai kurang sensitif terhadap kenaikan BI rate. Terutama karena sebagian besar obligasi pemerintah berada pada tingkat bunga mengambang, “Sehingga perseroan justru akan mendapatkan keuntungan dari kenaikan BI rate,” ucapnya.

Valuasi BMRI dianggap menarik, dengan memfaktorkan right issue, target harga baru diperoleh di Rp7. 900, naik tipis dari sebelumnya Rp7. 800. Target harga ini mencerminkan PBV 2011-2012 sebesar 2,9 kali - 2,6 kali. “Kami telah menggunakan rasio pajak 25% dari tahun ini dan seterusnya dan percaya dengan kombinasi right issue, BMRI bisa menjaga baik ROE, “ujarnya.

Bagaimanapun, kedua emiten bank lainnya, BBCA dan BBNI juga mendapat rekomendasi beli.Target harga BBCA dipertahankan di Rp7. 000 dengan rekomendasi dinaikkan menjadi beli dari sebelumnya hold. “Kami percaya BBCA terus mempertahankan ROE solid, karena efisiensi yang kuat, kualitas kredit yang baik, dan fee income yang kuat,” katanya.

Adapun target harga Rp7.000 dinilai premium dengan PBV 2011 4,5 kali dibandingkan PBV sektor sebesar 3,4 kali. “Kami percaya BBCA layak diperdagangkan premium karena ROE yang kuat dan NPL rendah,”ujarnya.

Jospeh juga mempertahankan target harga untuk BBNI di Rp4.500, yang mencerminkan PBV 2011 sebesar 2,6 kali. Perseroan diyakini mampu menawarkan ROE baik di masa depan, didukung peningkatan pertumbuhan kredit dari rights issue. “Kami percaya BBNI layak diperdagangkan dengan harga diskon karena ROE yang lebih rendah daripada saham sejenis,” tutupnya.

Senada dengan Helmy Therik, analis dari AAA Securities yang masih merekomendasikan saham perbankan untuk jangka panjang. Saham yang diuntungkan dengan kenaikan suku bunga BI rate, menjadi pilihannya, seperti Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Central Asia (BBCA). “Rekomendasi beli untuk saham-saham ini,” ucapnya.

Menurutnya, bank-bank ini punya kepemilikan di SBI dan obligasi pemerintah yang cukup banyak, dengan pendapatan bunga yang floating. Aset-aset ini pun cepat melakukan penyesuaian dengan BI rate, “Ini berarti, kenaikan suku bunga langsung bisa di-adjust,” katanya. [mdr]

Artikel Yang Berhubungan



0 komentar:

Poskan Komentar

By :
Free Blog Templates