-->

Kamis, 12 Agustus 2010

Cheerlaeding tidak Termasuk Olahraga


MESKI terlihat dinamis, kegiatan memandu sorak atau cheerleading ternyata tak tergolong aktivitas olahraga.

Hal itu dikemukakan salah seorang hakim federal yang menangani kasus cederanya seorang pemadu sorak dalam perlombaan di Universitas Quinnipiac. Sang hakim memutuskan bahwa kegiatan cheerleading tak memenuhi kualifikasi sebagai suatu olahraga. Maka itu, seorang pemandu sorak pun tak dapat dikatakan sebagai seorang atlet. Meski begitu, cheerleading tetap berisiko besar menyebabkan cedera.

Bentuk akrobatik dalam cheerleading yang membuat piramida manusia disertai gerakan variasi melompat dan membalikkan tubuh, selain tentunya menghibur, juga memiliki risiko neurologis seperti gegera otak, cedera pada kepala dan leher. Pusat Penelitian Nasional terhadap Cedera pada Olahraga yang berbasis di Universitas North Carolina menemukan bahwa 65,2 persen siswi sekolah menengah dan 70,5 siswi perguruan tinggi mengalami cedera akibat berbagai kegiatan, termasuk cheerleading.

Maka itu Asosiasi Bedah Syaraf Amerika memberikan beberapa tips untuk penyuka kegiatan ini guna meminimalkan cedera:

1. Pemandu sorak mestilah seseorang yang telah terlatih dan didampingi pengawas saat beratraksi

2. Pemandu sorak tak boleh memaksakan diri untuk beratraksi jikalau mereka dalam keadaan letih, cedera, atau sakit.

3. Matras harus selalu ada baik setiap kali latihan maupun saat kompetisi.

4. Setelah mengalami cedera, proses penyembuhan haruslah dijalani pemandu sorak hingga benar-benar sehat.

5. Akan ada beberapa larangan dan ketentuan melakukan variasi gerakan cheerleading seperti membentuk piramida, gerakan melempar, dan jumlah pengawas yang cukup saat gerakan mengangkat di atas bahu. (Pri/OL-06)


Sumber
MediaIndonesia.com


Artikel Yang Berhubungan



0 komentar:

Poskan Komentar

By :
Free Blog Templates