-->

Kamis, 12 Agustus 2010

Migrain Tingkatkan Risiko Kehamilan

Sebuah studi dari Amerika Serikat Menemukan, migrain meningkatkan risiko stroke selama masa kehamilan. Akan tetapi, jurnal studi medis Inggris (British Medical Journal study) menekankan bahwa secara umum risiko ini rendah.

Studi tersebut juga menghubungkan sakit kepala dengan peningkatan risiko penyakit jantung, pengentalan darah dan tekanan darah tinggi. Para peneliti menduga, migrain menambahkan stres ekstra terhadap tubuh saat tubuh sendiri sedang berjuang dengan adanya peningkatan volume darah dan detak jantung.

Para peneliti juga menyatakan bahwa migrain mungkin saja merupakan pertanda bahwa sistem kardiovaskular tidak bekerja sebagaimana mestinya. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan, sel-sel yang membentuk bagian dalam pembuluh darah, yang disebut dengan sel-sel endothelial, mungkin tidak berfungsi dengan baik pada penderita migrain.

Migrain terjadi sekitar 26% pada perempuan pada usia melahirkan dan sekitar 1/3 dari perempuan yang berusia antara 35 dan 39.

Studi besar

Para peneliti, yang dipimpin oleh Wake Forest University, mendasarkan penemuan mereka pada analisis 33.956 kehamilan mulai dari tahun 2000-2003.

Migrain selama masa kehamilan dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke sebesar 15 kali lipat. Migrain juga dikaitkan dengan peningkatan 3 kali lipat risiko pengentalan darah dalam pembuluh vena dan meningkatkan risiko penyakit jantung sebesar 2 kali lipat.

Risiko stroke pada masa kehamilan rendah, sekitar 4 kasus per 100.000 kelahiran. Tetapi, para peneliti mengatakan, para dokter seharusnya waspada dalam menangani perempuan hamil dengan migrain aktif, karena merupakan pertanda kondisi potensial masalah penyakit jantung.

Peneliti Profesor Cheryl Bushnell mengatakan:"studi kami sebaiknya tidak mengurungkan niat perempuan yang mengalami migrain untuk hamil, banyak perempuan yang mengalami migrain sebelum masa kehamilan mengalami penyembuhan dan tidak pernah menghadapi masalah apa-apa."

Dr Mark Weatherall, seorang konsultan neurologi dari London's Charing Cross Hospital mengatakan bahwa sejumlah perempuan dalam studi melaporkan angka migrain rendah, yang mengisyaratkan kalau kondisinya mungkin saja tidak dilaporkan, dan meningkatkan kemungkinan bahwa hubungan dengan stroke salah diperhitungkan.

Tetapi dia menambahkan:"Kami sudah tahu kalau migrain yang disertai dengan aura merupakan faktor risiko pada perempuan muda, khususnya jika mereka merokok, dan risiko akan bertambah tinggi jika mereka menggunakan pil yang mengandung estrogen, hal yang sama juga terjadi pada kehamilan."

Joanne Murphy, dari The Stroke Association menekankan bahwa sangat jarang terjadi stroke selama masa kehamilan."Perempuan hamil sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika mereka mengalami migrain," ujar dia.


Sumber
MediaIndonesia.com

Artikel Yang Berhubungan



0 komentar:

Poskan Komentar

By :
Free Blog Templates